Senin, 06 Februari 2017

AIR MATA DENNA

        


         Jauh di seberang sana, di ujung jalan dekat lampu merah pertama, di perempatan besar jalan kota yang sibuk, Denna berjalan dengan langkah yang sigap dan terburu-buru sebab menghindari tumpukan pengguna sepeda motor yang mulai ubah jalur dan naik ke trotoar. Hujan baru saja menyergap tempat dan jalan raya kota kecil itu. Tercium jelas aroma petrikor, dan genangan air di beberapa bahu jalan yang tak rata.
          Ada yang sedang di sembunyikan Denna dari hujan, senja, dan orang-orang murung di atas kendaraan ataupun jalanan yang basah. Air mata.
          Langkah Denna terhenti di bangku taman yang lengang. Di rebutnya bangku taman paling jauh yang tampak lusuh seperti dirinya itu. Dia duduk dengan kesendirian, menyibak rambutnya yang panjang, sembari menghapus air mata di pipi tirusnya dengan tergesa-gesa, meski isak tangisnya tetap tak tertangguhkan. Sambil mengumpulkan nafas, Denna menegapkan posisi duduknya.
          Di sore menjelang petang itu, Denna baru saja terlibat pertengkaran dengan pacarnya, Rafa. Hubungan yang mereka jalin sudah berjalan setahun lebih, tepatnya satu tahun enam bulan. Rafa lebih muda dibanding Denna dari segi usia. Tapi usia bukan penghalang jika yang namanya ‘cinta’ sudah duluan mengemudi pada jalur perasaan.
          Awalnya hubungan yang mereka bangun hanya di jalin di atas komitmen masing-masing, namun sebulan berlalu di awal hubungan, mereka memutuskan untuk membawanya pada jalur pacaran. Bulan Juli adalah hari bahagia lain yang terjadi dalam hidup Denna kala itu saat hubungan mereka menjadi resmi sebagai sepasang kekasih. Enam bulan pertama semua berjalan dengan normal. Normal dalam artian bahagia sebagaimana layaknya jalinan kasih diantara muda-mudi. Kemana-mana berdua, bahkan di acara-acara organisasi yang kebetulan sama-sama di geluti oleh mereka. Keduanya tampak lengket, dimana ada Rafa disitu ada Denna kecuali di jam-jam kuliah sebab tahun angkatan dan jurusan mereka berdua yang berbeda. Hubungan keduanya begitu damai, meski memang beberapa kali terjadi pertengkaran kecil. Itu wajar dalam hubungan apapun, akan tetap ada yang namanya perselisihan. Tapi keduanya selalu mampu menyelesaikan rintangan untuk hubungan itu. Denna kadang-kadang mengalah meski itu adalah kesalahan Rafa, begitupun sebaliknya.
          Entah apa yang salah atau siapa yang salah diantara keduanya. Sebab menjelang tujuh bulan hubungan, pertengkaran semakin tak terelakkan saja. Adu mulut dan selisih pendapat antara Denna dan Rafa sering-sering terjadi setiap kali keduanya sedang bersama. Bahkan di tempat umum sekalipun. Semakin lama mereka menjalin hubungan, sifat asli masing-masing sudah mulai kentara. Denna yang keras kepala dan cenderung tak mudah mengakui kesalahan jika memang ia tidak merasa bersalah, dan juga Rafa yang sama keras kepalanya dengan Denna. Sering kali naluri laki-laki Rafa yang tidak mau kalah dari Denna membuat pertengkaran diantara keduanya makin menjadi-jadi. Begitupun dengan naluri perempuan Denna yang ujung-ujungnya pecah pada tangisan jika adu mulut antara mereka semakin hebat. Denna sering kali merasa ditindas oleh sifat Rafa yang tidak mudah mengerti dan malah menganggap pertengkaran sebagai ajang untuk beradu harga diri. Denna juga sebenarnya terlalu sesuka hati dan cenderung terlalu keras kepala untuk ukuran perempuan menurut Rafa. Pertahanan harga diri keduanya tentu saja memperparah masalah yang terjadi.
          Pertengkaran demi pertengkaran tak terelakkan, keduanya sering putus nyambung. Sudah seperti bayar tagihan cicilan tiap bulan. Sering Denna menyakiti diri sendiri, berbuat hal-hal konyol jika Rafa seolah tidak peduli dan cenderung lebih sibuk dengan kehidupannya sendiri. Rafa tak terima jika dikatakan ‘tidak peduli’ dengan Denna. Dia terus mengelak, dan beralibi bahwa sikapnya yang cuek itu bukan berarti tidak peduli pada Denna, dia hanya ingin mengurangi jarak agar tak sering terjadi pertengkaran diantara keduanya. Tapi sikap Rafa itu justru membuat amarah Denna semakin menjadi-jadi, sering Denna mengumpati Rafa dengan kata-kata yang terbilang kasar sebenarnya, tapi itu ia lakukan untuk menunjukkan bahwa dirinya kurang perhatian dan hanya butuh waktu dengan Rafa seperti di awal hubungan mereka dulu. Sayangnya Rafa justru balik menyalahartikan sikap Denna itu sebagai sikap ketidakdewasaan Denna. Tentu saja lambat laun rasa sayang diantara kedua muda-mudi ini semakin terkikis. Pertengkaran mereka hampir terjadi setiap hari. Hingga tiba hari dimana Denna merasa benar-benar sudah tidak berarti bagi Rafa.
          Sebulan menjelang putusnya hubungan kedua muda mudi itu, tepat di libur semester tahun lalu, tepatnya di akhir tahun. Keduanya pulang kampung untuk liburan, dan itu berarti intensitas pertemuan keduanya semakin jarang sebab kesibukan Rafa di kampung membuat ia tak punya banyak waktu untuk bertemu dengan Denna. Begitu juga Denna yang punya kesibukan sendiri meski tak sesibuk Rafa. Sering sekali ia rindu, tetapi tak disampaikan kepada Rafa, bahkan mengirimkan pesan singkatpun sudah tidak sering lagi terjadi diantara mereka. Bukannya Denna tak mau atau tak bisa mengirim pesan kepada Rafa. Denna mau dan Denna bisa, hanya saja Rafa tidak merespon pesan-pesan itu seperti dulu lagi. Alasannya karena kesibukan yang luar biasa mengharuskan dia jarang memegang cellphonenya. Tapi Denna berfirasat bahwa sikap Rafa yang satu ini memang benar-benar tak bisa ia mengerti. Kemarin-kemarin di liburan semester sebelumnya Rafa juga sibuk tapi tetap punya waktu untuk mengabari Denna meski hanya sekali atau dua kali. Namun kali ini, tak akan terjadi jalinan komunikasi jika bukan Denna duluan yang mulai, itupun Rafa tak lagi merespon seperti dulu. Ia hanya membalas seperlunya, dan langsung bersembunyi di balik alasan sibuk.
          Keadaan ini benar-benar semakin mempersulit hubungan keduanya. Denna sungguh tak bisa mengendalikan fikirannya sendiri. Sering kali ia berfirasat bahwa mungkin Rafa tidak benar-benar sibuk seperti yang ia katakan selalu kepada dirinya. Mungkin saja Rafa telah bosan dengan hubungan yang mereka jalin setahun lebih itu, lalu tanpa sepengetahuan Denna, di hati Rafa telah ada perempuan lain. Semua praduga-praduga itu semakin membuat Denna resah sendiri, hingga ia tak tahan dan meminta bertemu dengan Rafa untuk membicarakan masa depan hubungan mereka. Kali ini Rafa tak mangkir, ia memenuhi keinginan Denna untuk bertemu dan berbicara empat mata.
          Siang  hari yang suntuk di pinggir pantai, mereka berdua saling bertatap. Memang ada yang aneh dari tatapan Rafa kepada Denna. Kosong, tak ada rindu, tak ada rasa sayang, dan tak lagi ada Denna. Jantung Denna berdegup kencang, bukan karena ia senang dengan pertemuan mereka, namun ia kesulitan menahan amarah, rindu, dan kecamuk air mata, juga perasaan terkhianati yang ia tahan di hadapan lelaki yang dipacarinya cukup lama itu. Denna telah paham dengan situasi itu, dia bisa membaca perasaan Rafa dari raut wajah dan cara ia membalas kata-kata Denna.
          Meski begitu Denna tetap berharap bahwa ada penjelasan yang dapat membuatnya paham dan bisa memaafkan sikap Rafa kepadanya, dia berharap bahwa prasangkanya yang salah. Denna memulai pembicaraan, “Aku bingung dengan sikapmu akhir-akhir ini. Sebenarnya ada apa? Okey, aku tau kamu ada banyak kesibukan, aku paham itu. Tapi Raf, sikap kamu tuh udah lain banget. Kamu bukan Rafa yang aku kenal kaya dulu lagi tau nggak? Aku mohon kamu jelasin sama aku, biar aku paham, biar aku bisa mengambil tindakan yang tepat untuk kita. Apa kamu udah bosan sama aku? Sama hubungan kita?”, desak Denna kepada Rafa sambil menahan emosinya. Rafa menjawab ringan dengan gaya yang setengah cuek kepada Denna, “terserah kamu aja deh mau berpikiran apa. Yang jelas aku sibuk, Nna. Kalau kamu nggak bisa paham dengan keadaan aku, ya udah, mundur aja!”. Tatapan Denna menjadi tajam, emosinya menggunung apalagi dengan gaya Rafa yang menanggapinya dengan nada cuek dan santai, sama sekali tidak seserius Denna.
“oh gitu? Kaya gitu aja selama setahun lebih ini? Raf, kita udah hampir dua tahun, apa kamu nggak pertimbangkan semua yang udah kita lalui sama-sama? Aku cuma minta kejelasan doang Raf. Kamu mau pertahankan hubungan kita atau nggak atau mau gimana? ”, tukas Denna dengan suara yang menunjukka kemarahannya, tapi dengan seluruh tenaga ia tetap berusaha terlihat tenang dihadapan Rafa.
“kan udah aku jelasin, aku nih sibuk Nna. Kamu kan tau sendiri kalau aku udah di kampung, yah kaya gimana. Kehidupan kita beda. Di kota kita boleh banyak habiskan waktu sama-sama. Tapi disini, kamu harus ngerti lah.”, balas Rafa
“kamu kira aku nggak berusaha ngertiin kamu apa? Raf, aku tahan diri aku buat nggak nge-smsin kamu, karena takut kamu terganggu. Aku tunggu kamu kirim sms duluan Raf, tapi apa? Nggak ada Raf. Komunikasi kita nggak jalan kalau bukan aku duluan yang mulai. Kurang ngerti apa aku Raf? Aku paham kamu sibuk, aku nggak pernah minta hangout bareng karena aku tau kamu nggak bakalan punya waktu. Aku ngerti, Raf. Yang aku nggak paham kenapa kamu sampe berubah banget kaya sekarang? Apa kamu mau putus aja?”, tuntut Denna dengan mata berkaca-kaca menahan air matanya.
          Betapa suasana itu membuat Denna ingin gila rasanya. Semua emosi yang berusaha ia tahan cukup lama, hanya ditanggapi santai bahkan cuek oleh Rafa. Tapi Denna tetap bertekad untuk minta kejelasan dan jauh di dalam hatinya Denna masih ingin mempertahankan hubungan yang ia jalin dengan pria yang setahun lebih muda darinya itu.
          “Aduuhh, Nna. Aku lagi banyak pikiran yah, kamu jangan tambah-tambah beban pikiran aku deh. Gini aja deh. Aku tuh terserah, kamu mau mau putus ya silahkan, mau ngelanjutin yah silahkan tapi kamu harus paham dengan situasiku. Jangan banyak tuntut ini itu.”, Rafa memberi penjelasan kepada Denna.
“haahhhh!”, Denna kembali menghembuskan nafas panjang pertanda ia benar-benar berusaha keras menahan emosinya.
“ya ampun, Rafa. Apa kamu nggak bisa rasa apa? Aku tuh udah berusaha banget ngertiin kamu. Tapi kamu masih bilang aku nggak ngertiin kamu? hahhh”. Tukas Denna dengan nada suara yang meninggi dan diakhiri dengan hembusan nafasnya lagi yang panjang.
“Kalau kamu ngerti sama keadaan aku, kamu nggak bakalan tuntut kaya gini sama aku, Nna. Harusnya kamu langsung ngerti aja.”, kembali Rafa membalas Denna.
“kamu keterlaluan, Raf. Keterlaluan.”, Denna hanya membalas singkat, sebab emosinya semakin menjadi-jadi tapi masih mampu ia tahan meski dengan susah payah.
“hmm, tadi aku udah kasi pilihan sama kamu Nna. Terserah sama kamu juga, mau lanjut atau mau putus, terserah kamu Nna.”, Rafa menanggapi Denna.
Jauh di dalam lubuk hati Denna, ia merasa begitu dipermainkan oleh Rafa, tapi ia tetap berharap bahwa sikap Rafa itu hanya karena ia sedang stress dengan banyaknya kesibukan yang ia tanggung. Meski di sisi lain Denna tidak sepenuhnya puas dengan penjelasan Rafa, bahkan ia merasa dipermainkan oleh pilihan yang diberikan Rafa kepadanya, tapi ia tetap memilih untuk bertahan pada hubungan tersebut.
“ya udah, aku nggak sanggup berdebat sama kamu lagi Raf. Hati aku makin sakit aja. Kalau kamu suruh aku pilih. Okey, fine! Aku pilih untuk tetap bertahan pada hubungan kita. Tapi please kamu tolong beri aku penjelasan kalau kamu sibuk, balas aja pesan aku sekali, nggak apa-apa. Aku akan ngertiin kamu lebih baik lagi.”, Denna memohon dengan nada lirih.
“okey, kita lanjut kalau gitu. Tapi, Nna aku bener-bener nggak bisa kaya dulu lagi. Please, kamu juga harus paham. Kamu nggak boleh nuntut ini itu sama aku sekarang.”, balas Rafa yang menanggapi permohonan Denna dengan nada santai lagi sambil memainkan game di handphonenya.
Pembicaraan tentang masa depan hubungan mereka itu berakhir. Denna pulang dengan perasaan yang campur aduk, dia berharap bisa senang dengan keputusannya tadi. Tapi, kenyataannya tidak seperti itu yang dirasakan hati Denna. Di sisi lain ia senang masih bisa bersama Rafa meskipun akan ada banyak hal yang berubah, tapi dia berjanji akan memperbaiki diri lebih baik lagi agar Rafa bisa mengerti betapa Denna menyangi pria itu dan berusaha keras untuk menjadi yang terbaik baginya.
Dua minggu berlalu setelah pertemuan mereka. Selama dua minggu itu pula Denna seperti membohongi diri sendiri, mencoba terlihat bahagia namun jauh di dalam hatinya dipenuhi sesak yang berusaha ia tahan agar Rafa tidak lagi mengira bahwa Denna sama sekali tak mengerti keadaannya.
Denna tak lagi berkomunikasi dengan Rafa. Denna mencoba menahan diri selama dua minggu itu untuk tidak mengirim pesan apapun ke nomor Rafa, berharap Rafa akan merasa ada yang kurang, dan akhirnya ia menyadari bahwa Denna tak pernah mengirimkan pesan apapun kepadanya selama kurang lebih empat belas hari. Tapi sayangnya, semua harapan Denna dan rencana kecilnya itu hanya menjadi khayalan yang tak pernah menjadi kenyataan.
Benar saja, selama dua minggu Rafa sama sekali tak ada kabar, tidak ada satu pesan sms pun dari Rafa yang masuk di inbox Denna. Tapi perempuan lugu itu tetap menguat-nguatkan hatinya yang sudah terlalu sesak, untuk tetap menjaga lilin pengharapannya agar tak mati.

Tepat di siang hari setelah dua minggu berlalu sejak pertemuan terakhir mereka, sejak tak ada satu pesanpun yang Denna kirim ke nomor Rafa dan begitupun sebaliknya. Denna tak sengaja bertemu dengan adik kelasnya sewaktu di SMA dulu. Salsa namanya. Salsa begitu girang bertemu dengan Denna yang lagi jalan santai di sekitar kompleks rumahnya sore itu. Salsa memeluk Denna dengan erat, seolah mereka tak pernah bertemu untuk waktu yang sangat lama, padahal seminggu yang lalu mereka baru saja bertemu dengan keadaan yang hampir sama di taman kota dekat rumah Salsa. Singkat cerita, hari itu Denna seperti kejatuhan langit tapi hanya menimpanya seorang diri.
Betapa tidak, Salsa yang dengan polosnya menohok Denna dengan sebuah pertanyaan yang sungguh memecah kembali hati yang berusaha ia tata untuk Rafa.
“Loh, kak Denna koq nggak ikut sama kak Rafa?”, Salsa menohok Denna dengan pertanyaan polos itu.
“Ikut? Kemana? Emang Rafa kemana?”, jawab Denna dengan raut wajah yang bergitu heran, dan tangannya kembali gemetaran menahan rasa kaget.
“Kak Rafa jalan-jalan sama temen-temennya masa kak Denna nggak tau ih?”, Balas Salsa masih dengan nada polos.
“Aku bener-bener nggak tau, Sa. Emang kemana Rafa dengan teman-temannya? Aku sama sekali nggak dikasih kabar. Iyya, aku emang lihat foto temennya Rafa di BBM lagi traveling gitu, tapi aku nggak tau kalau Rafa ikut. Dia bilangnya lagi sibuk banget dan udah dua minggu aku sama Rafa nggak ada komunikasi, Sa. Kamu tau kemana mereka? Dan dari mana kamu tau kalau Rafa ikut sama temen-temennya?”, desak Denna kepada Salsa dengan menahan air mata dan rasa sesak di dadanya.
“Yahh, aku nggak tau kalau kaya gitu keadaannya kak. Aku minta maaf banget yah. Maaf banget kak. Hmm, aku tau kak Rafa pergi sama mereka karena emang ada foto-foto yang mereka unggah di facebook. Kak Denna emang ngga pernah online? Yah, emang bukan dari akunnya kak Rafa, tapi dari akunnya kak Desi, kak Irfan, temen-temennya kak Rafa. Setau aku mereka katanya pergi ke puncak kak, soalnya ada statusnya gitu tadi.”, jawab Salsa kepada Denna dengan ekspresi yang penuh rasa bersalah.
“oh gitu? Ya udah, makasih banget yah Sa atas informasinya. Kakak, harus ke suatu tempat dulu”, dengan terburu-buru Denna pergi setelah mendengar pernyataan Salsa dan melihat sendiri foto-foto unggahan teman-teman Rafa di facebook.
Denna berjalan dengan sangat terburu-buru, perempuan yang hatinya telah berkali-kali remuk karena sikap Rafa itu, sungguh tak mampu lagi menahan gejolak amarah yang ia pendam cukup lama dan berusaha bersabar untuk seseorang yang ternyata sama sekali sudah tidak menganggapnya lagi.
Denna berusaha menghubungi nomor Rafa, tapi tidak aktif. Akun BBM dan facebooknya juga tidak aktif. Tapi, Denna tidak kehabisan akal. Dia menghubungi salah satu teman Rafa yang tadi disebutkan Salsa.
“Hallo, Desi? Ini aku Denna, apa kamu sama Rafa sekarang?”, desak Denna kepada Desi melalui via telephone.
“Iyya nih kak, aku sama Rafa sama temen-temen yang lain juga, lagi ke puncak. Aku pikir kak Denna ikut sama si Rafa.”. jawab Desi polos kepada Denna, persis seperti cara Salsa tadi.
“ohh, makasih yah Dek. Kakak minta tolong, bilangin si Rafa, biar nomornya di aktifin. Bilang sama dia kalau aku mau ngomong sesuatu. Penting banget. Oh iyya, kalian kapan pulangnya sih?”, jawab Denna sambil menahan isak tangisnya setelah mendengar jawab Desi sebelumnya.
“iyya ka, aku pasti sampaikan ko’ ke Rafa. Kayanya emang handphonenya tuh anak nggak di aktifin dari kami berangkat. Kak Denna tenang aja, ntar sore kami udah pulang ko’.”, jawab Desi yang masih tak paham situasi Denna dan Rafa.
Denna menutup telephone yang membuat dadanya semakin sesak setelah mendengar jawaban Desi. Ia masuk ke dalam kamarnya, menutup pintu dengan rapat dan menangis sejadi-jadinya di bawah bantal. Denna betul-betul putus asa dengan kelakuan Rafa padanya. Dia berfikir bahwa Rafa sengaja melakukan semua itu agar Denna tak tahan dan akhirnya Denna sendiri yang minta putus kepada Rafa. Hatinya betul-betul remuk, dijatuhkan berkali-kali setelah bersusah payah ia tata. Langit seolah runtuh dan hanya menimpanya. Pupus sudah puisi-puisi yang Denna ciptakan untuk pria itu. Runtuh sudah semua istana harapan yang berkali-kali ia bangun kembali untuk Rafa. Mati sudah lilin pengharapan yang dengan sekuat tenaga ia jaga agar tetap hidup untuk seorang Rafa.
Hati Denna benar-benar hancur, puluhan pesan ia kirim ke nomor Rafa meski ia tau nomor sedang tidak aktif, tapi ia tidak peduli. Ia tau Rafa akan membacanya nanti. Ia ingin bertemu dengan Rafa, dan mengeluarkan segala kemarahan, kesabaran, rasa sakit yang berkali-kali ia pendam untuk semua rindunya yang tak terbalaskan pada Rafa.
Sore menjelang petang, Rafa telah tiba lagi di kampungnya setelah perjalanan jauh dari puncak bersama teman-temannya. Semua pesan yang dikirimkan Denna kepadanya, ia baca satu per satu. Lalu tanpa pikir dua kali, ia langsung memutuskan untuk bertemu dengan Denna. Emosi Rafa kali ini mencuat. Ia juga mulai murka dengan kata-kata yang dikirimkan Denna kepadanya. Baginya benar-benar tak lagi ada rasa sayang kepada Denna sebab memang dua bulan terakhir, bukan Denna lagi yang ada di hatinya.
Di sore itu, menjelang pertemuan Denna dan Rafa, langit pun terlihat pucat pasi, murung dan tak bergairah, hanya ingin muntab dan memuntahkan sebanyak-banyaknya air yang dikandung oleh awan yang gelap.
Pertemua kedua muda-mudi ini seperti pertemuan dua samurai yang siap bertarung setelah menyimpan dendam yang lama mendingin lalu menjadi panas kembali.
Tepat di seberang sana, di ujung jalan dekat lampu merah pertama.
“Okey, jadi ini yang kamu mau?”, Rafa langsung memulai pembicaraan di bawah rinai itu dengan emosi kepada Denna.
“Apa? Harusnya yang bilang kaya gitu aku, Raf. Kamu benar-benar nggak punya hati. Aku kerahkan semua kemampuanku untuk bisa jadi yang terbaik buat kamu, tapi kamu sama sekali nggak bisa lihat semua itu. yang harusnya bilang kaya gitu, aku Raf. Aku.” Jelas Denna kepada Rafa, dengan penuh amarah.
“okey, silahkan kamu marah. Tapi aku paling nggak suka dengan kata-kata yang kamu kirimkan sama aku barusan. Cewek kasar!”, balas Rafa juga dnegan emosi yang memuncak.
Denna muntab dengan perkataan Rafa dan balik membalas, “hahaha, kamu sakit dengan kata-kata aku. Bayangin gimana sakitnya aku dengan kelakuan kamu Raf. Dan aku cuma bisa menahan selama ini. Kamu bener-bener keterlaluan. Ngaku aja deh kalau kamu sengaja lakukan semua ini biar aku duluan yang minta putus. Ngaku aja sekalian kalau kamu punya selingkuhan.”.
“Terserah kamu mau pikir aku kaya apa. Terserah. Yang jelas kali ini nggak ada maaf buat kamu Denna.”, bentak Rafa yang berusaha mengalihkan pernyataan Denna tentang perselingkuhannya.
“Ehh, kamu nggak berhak bentak-bentak aku kaya gitu. Yang berhak buat marah besar itu aku, Raf. Kamu pergi sama temen-temen kamu, dan nggak ada sedikitpun kabar kalau kamu pergi. Kamu egois Raf. Kamu Cuma memikirkan kepentingan diri kamu sendiri tanpa perna peduli aku kaya gimana. Susah payah aku perbaiki suasana hati aku Raf hanya supaya tidak meledak pertengkaran seperti ini antara kita. Agar hubungan kita tetap bertahan. Tapi, emang kayanya kamu yang sudah tidak mau mempertahankan hubungan ini.”, suara Denna meninggi membalas Rafa dengan kekesalan yang ia tahan selama ini.
“kamu yang minta Denna. Sikap kamu. Kamu putusin aja aku sekarang.”, bentak Rafa kepada Denna.
Sambil menahan air mata, Denna kembali muntab dengan nada yang berat, “nggak. Kamu yang putusin aku, Raf. Biar kita nggak pernah balikan lagi.”.
Sejenak Rafa terdiam, lalu tanpa fikir memenuhi keinginan Denna untuk terakhir kali, “okey gini. Aku benar-benar minta maaf karena udah nyakitin kamu selama ini Nna. Tapi aku juga nggak mampu bertahan karena sikap kamu yang selalu menuntut untuk diperhatikan. Terserah kamu mau bilang ini alasan atau apa. Terserah juga kamu mau lihat aku sebagai manusia atau setan, binatang apapun itu, setelah ini. Tapi aku minta maaf dan kita akhiri saja semua ini. Kita putus.”.
“Dengan senang hati.”, singkat Denna menjawab dengan nada suara yang semakin berat sebab menahan tangis dan amarahnya.
Akhirnya benar-benar berakhir seluruh yang Denna pertahankan seorang diri selama ini. Ia menyerah, sebab hatinya kalah. Tak mampu ia sambung kembali tali pengharapan, tak mampu ia nyalakan kembali lilin pengharapan. Dihempaskannya semua barang pemberian Rafa ke hadapan lelaki jangkung itu.
Aroma petrikor semakin kuat menandakan hujan yang belia baru saja menyentuh tanah bumi, bersamaan dengan itu pecah pula air mata Denna yang dibawanya berlari menjauh meninggalkan pria itu. Denna tak tau pasti ke arah mana ia berlari, yang jelas dia mengerahkan seluruh sisa tenaga yang ia miliki mengayunkan kedua kakinya dengan sangat cepat menembus butiran-butiran hujan sekaligus beradu dengan emosi.
Bagi Denna, hujan di Februari itu tidak hanya bertajuk tentang rindu yang tak pernah sampai, tetapi juga tentang hujan yang paling kesepian nan penuh dendam, berubah dalam sekejap waktu. Berubah semua dingin, jalanan, basah, Februari dan air mata Denna.
~PENA JIWA~