Selasa, 08 November 2016

DISEPERDUA PETANG


Suatu ketika yang tak biasa

diseperdua petang.

Kulihat kau yang tergesa-gesa

berkejaran dengan rintik yang keburu membasahi bahu tegapmu.

Di bawah pohon beringin yang dingin,

juga ada kau yang lusuh dan setengah basah.

Pemandangan kalian tampak serasi,

beriringan dengan hujan pula.

Jujur saja, aku paling senang melihatmu

tampak setengah kesal dengan mendung

tapi riang ditengah hujan.

Namun, tidak kudapati hal indah itu

dihujan kali kesekian ini

sejak awal September lalu.

Seperti kubilang tadi,

lusuhmu sederajat dengan beringin itu.

Ada apa?

Bukankah kau mencintai hujan?

Mengapa?

Bukankah kau bahagia

bila kaki-kakimu menapak diatas dinginnya?

Aku sungguh ingin bertanya padamu

dengan bahasa yang kau mengerti.

Tapi, bagaimana mungkin,

saat yang kau tau aku tak lebih dari dari angin

disela-sela hujan yang kau cintai.

Bahkan sering tak tau kau bedakan aku dengan rintik.

2016, Asyrah (Pena Jiwa)

Minggu, 23 Oktober 2016

KUTEMUKAN KAU






Kutemukan kau diantara bara 

atau sebagai samudera diseperdua malam yang dingin,

diantara tumpukan sanjungan

atau kekesalan.

Merupai sajak dari bahasa lampau,

bermil mil jarak untuk menjadi ketakutan

dan luapan gembira sekaligus.

Kau lalui seribu abad hingga terdampar hari ini,

di jaman kita,

yang manusia atau setan terlihat serupa.

Yang setan atau malaikat terlihat bersekutu.

Yang setan akan bertanggungjawab atas

kejahatan manusia.

Jauh dan jauh kutawar masa lalu

dan kuingat saat itu kutemukan kau

diantara kunjungan kenangan,

memori-memori terjauh,

dari jaman yang manusia hidup sebagai manusia,

dan cinta bukan alasan 

untuk kejahatan hati lalu mengatasnamakannya.

Kutemukan kau.

Pada akhirnya bukan sebagai apa-apa atau sesiapa.

2016, Asyrah (Pena Jiwa)



Rabu, 12 Oktober 2016

BILA CINTA SALAH MASUK RUMAH




Hai cerita dan cinta!

Apa kabar hari ini?

Masihkah kau menyimpan tanya?

Atau masihkah kau segelintir deru dari bekas hujan

Yang semalam?

Dan ada apa dengan tanda tanya itu?

Apa kau memilih membatasi waktu?

Hei, lihatlah dengan tenang!

Tentang cerita dan cinta.

Jangan memilih mendebat mereka lagi.

Kau tau?

Bahwa serangkaian gundahmu adalah batas celah

Antara ketidakberdayaan hati yang menanggung

Akibat luka saat mencinta.

Lalu mengungkapkannya tentu saja 

Ruang untuk menyeka ketakutan dan kesiapan.

Hal ini sederhana saja.

Bahwa perkara cinta tentu saja persengketaan dengan hati.

Sebab dari sana mereka muasal.

Jangan kau takut!

Sebab cinta hanya akan pulang ke rumahnya sendiri.

Yang nyaman, yang rindang.

Menjadi tempat sempurna untuk berlindung.

Jika ia memilih pergi, 

Itu karena ia sadar bahwa rumah yang ia tuju bukanlah rumahnya.

Tuntun saja ia, agar tak salah rumah lagi

Di lain waktu.

2016, Asyrah (Pena Jiwa)

Minggu, 09 Oktober 2016

TAK PERNAH ADA YANG BAIK-BAIK SAJA



Tidak ada yang baik-baik saja tentang hati

Setelah mencintaimu dengan bersusah payah.

Luruh sudah sendi-sendi tempatku berpijak

Di tanah hatimu.

Aku kau keluarkan dengan hal hal

yang tidak kumengerti mengapa.

Semua ketiba tibaan, adalah kejatuhan

yang tak pernah kurancang sejak

kubanting haluan dan jatuh cinta padamu

di awal Februari tahun lalu.

Tak pernah kusiapkan diri,

sebab aku terlalu cukup ketika hanya mencintaimu saja.

Lantaran kesakitanku

bukan hal yang kurencanakan

saat kupilih menempati ruang ruang hatimu.

Maka tak pernah ada yang baik-baik saja

dengan hati.

Saat kau putuskan tali pengharapanku.

Saat kau rampas penaku dan kau rusak

kisah yang kubangun dengan tokoh utamanya

Adalah dirimu sendiri.

Maaf jika aku serakah ketika mencintaimu waktu itu.

Tapi percayalah untuk kali ini,

Kau tak lagi berhak menyapaku, bahkan

Mengingat caraku memanggil namamu.

Tidak.

Bahkan mengingat namaku.

Akhirnya kau memaksaku menyerah.

Dan kutikam keras keras

Memori tentangmu

Saat waktu bersedia mengobati hatiku dan luka.

2016, Asyrah (Pena Jiwa)

Sabtu, 08 Oktober 2016

HANYA AKU YANG PALING SENDIRI



  

Tak ada yang lebih sendiri dibanding jenis kesendirian

yang kupeluk.

Tak ada yang lebih sepi dibanding jenis kesepian

yang kuteguk.

Kenyataannya aku terjebak diantara hilir lalu lintas
keramaian yang beraroma seperti jalan-jalan basah
yang sepi setelah dihampiri hujan.

Seperti serpihan daun yang tak sempat tumbuh
lalu menjadi kering dan gugur tak berguna

Menghentak sendi-sendi tanah yang dingin

Setelah salju meleleh,

Mengaliri hulu sungai yang mengais sisa-sisa kebekuan.

Atau serupa nada-nada sedih dari seorang pengamen 

yang sendirian di ujung jalan-jalan kota yang sibuk,

memilah segepok koin untuk hidup
satu hari lagi saat subuh masih berembun.

Mungkin juga tak jauh berbeda dari seorang ibu
dan segelintir do’a-do’a lirih di atas sajadah lusuh
yang tertidur dengan air mata, menjatuhi, dan basah
di atas pinggiran kitab suci yang dirangkulnya,
sembari menimang harap kedatangan anaknya
jauh di rantau,
bertahun-tahun tak ingat pulang.

Bahwa seluruh yang menjadikan malam sebagai gelap yang dingin

Adalah sepi dan rasa sendiri
yang tak terbunuh.

Lalu memilih pasrah dan menikmati kebohongan

tentang angan-angan hidup
yang sebenarnya hanya penawar saat mungkin air mata
tak tertangguhkan.
Dan aku menerima berbagai jenis rasa itu.

2016, Asyrah (Pena Jiwa)