Selasa, 08 November 2016

DISEPERDUA PETANG


Suatu ketika yang tak biasa

diseperdua petang.

Kulihat kau yang tergesa-gesa

berkejaran dengan rintik yang keburu membasahi bahu tegapmu.

Di bawah pohon beringin yang dingin,

juga ada kau yang lusuh dan setengah basah.

Pemandangan kalian tampak serasi,

beriringan dengan hujan pula.

Jujur saja, aku paling senang melihatmu

tampak setengah kesal dengan mendung

tapi riang ditengah hujan.

Namun, tidak kudapati hal indah itu

dihujan kali kesekian ini

sejak awal September lalu.

Seperti kubilang tadi,

lusuhmu sederajat dengan beringin itu.

Ada apa?

Bukankah kau mencintai hujan?

Mengapa?

Bukankah kau bahagia

bila kaki-kakimu menapak diatas dinginnya?

Aku sungguh ingin bertanya padamu

dengan bahasa yang kau mengerti.

Tapi, bagaimana mungkin,

saat yang kau tau aku tak lebih dari dari angin

disela-sela hujan yang kau cintai.

Bahkan sering tak tau kau bedakan aku dengan rintik.

2016, Asyrah (Pena Jiwa)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar