Suatu ketika yang tak biasa
diseperdua petang.
Kulihat kau yang tergesa-gesa
berkejaran dengan rintik yang keburu membasahi bahu tegapmu.
Di bawah pohon beringin yang dingin,
juga ada kau yang lusuh dan setengah basah.
Pemandangan kalian tampak serasi,
beriringan dengan hujan pula.
Jujur saja, aku paling senang melihatmu
tampak setengah kesal dengan mendung
tapi riang ditengah hujan.
Namun, tidak kudapati hal indah itu
dihujan kali kesekian ini
sejak awal September lalu.
Seperti kubilang tadi,
lusuhmu sederajat dengan beringin itu.
Ada apa?
Bukankah kau mencintai hujan?
Mengapa?
Bukankah kau bahagia
bila kaki-kakimu menapak diatas dinginnya?
Aku sungguh ingin bertanya padamu
dengan bahasa yang kau mengerti.
Tapi, bagaimana mungkin,
saat yang kau tau aku tak lebih dari dari angin
disela-sela hujan yang kau cintai.
Bahkan sering tak tau kau bedakan aku dengan rintik.
2016, Asyrah (Pena Jiwa)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar