Jauh di seberang sana, di ujung jalan dekat lampu merah
pertama, di perempatan besar jalan kota yang sibuk, Denna berjalan dengan
langkah yang sigap dan terburu-buru sebab menghindari tumpukan pengguna sepeda
motor yang mulai ubah jalur dan naik ke trotoar. Hujan baru saja menyergap
tempat dan jalan raya kota kecil itu. Tercium jelas aroma petrikor, dan
genangan air di beberapa bahu jalan yang tak rata.
Ada yang sedang di sembunyikan Denna dari hujan, senja, dan
orang-orang murung di atas kendaraan ataupun jalanan yang basah. Air mata.
Langkah Denna terhenti di bangku taman yang lengang. Di
rebutnya bangku taman paling jauh yang tampak lusuh seperti dirinya itu. Dia
duduk dengan kesendirian, menyibak rambutnya yang panjang, sembari menghapus
air mata di pipi tirusnya dengan tergesa-gesa, meski isak tangisnya tetap tak
tertangguhkan. Sambil mengumpulkan nafas, Denna menegapkan posisi duduknya.
Di sore menjelang petang itu, Denna baru saja terlibat
pertengkaran dengan pacarnya, Rafa. Hubungan yang mereka jalin sudah berjalan
setahun lebih, tepatnya satu tahun enam bulan. Rafa lebih muda dibanding Denna
dari segi usia. Tapi usia bukan penghalang jika yang namanya ‘cinta’ sudah
duluan mengemudi pada jalur perasaan.
Awalnya hubungan yang mereka bangun hanya di jalin di atas
komitmen masing-masing, namun sebulan berlalu di awal hubungan, mereka
memutuskan untuk membawanya pada jalur pacaran. Bulan Juli adalah hari bahagia
lain yang terjadi dalam hidup Denna kala itu saat hubungan mereka menjadi resmi
sebagai sepasang kekasih. Enam bulan pertama semua berjalan dengan normal.
Normal dalam artian bahagia sebagaimana layaknya jalinan kasih diantara
muda-mudi. Kemana-mana berdua, bahkan di acara-acara organisasi yang kebetulan
sama-sama di geluti oleh mereka. Keduanya tampak lengket, dimana ada Rafa
disitu ada Denna kecuali di jam-jam kuliah sebab tahun angkatan dan jurusan
mereka berdua yang berbeda. Hubungan keduanya begitu damai, meski memang
beberapa kali terjadi pertengkaran kecil. Itu wajar dalam hubungan apapun, akan
tetap ada yang namanya perselisihan. Tapi keduanya selalu mampu menyelesaikan
rintangan untuk hubungan itu. Denna kadang-kadang mengalah meski itu adalah
kesalahan Rafa, begitupun sebaliknya.
Entah apa yang salah atau siapa yang salah diantara
keduanya. Sebab menjelang tujuh bulan hubungan, pertengkaran semakin tak
terelakkan saja. Adu mulut dan selisih pendapat antara Denna dan Rafa
sering-sering terjadi setiap kali keduanya sedang bersama. Bahkan di tempat
umum sekalipun. Semakin lama mereka menjalin hubungan, sifat asli masing-masing
sudah mulai kentara. Denna yang keras kepala dan cenderung tak mudah mengakui
kesalahan jika memang ia tidak merasa bersalah, dan juga Rafa yang sama keras
kepalanya dengan Denna. Sering kali naluri laki-laki Rafa yang tidak mau kalah
dari Denna membuat pertengkaran diantara keduanya makin menjadi-jadi. Begitupun
dengan naluri perempuan Denna yang ujung-ujungnya pecah pada tangisan jika adu
mulut antara mereka semakin hebat. Denna sering kali merasa ditindas oleh sifat
Rafa yang tidak mudah mengerti dan malah menganggap pertengkaran sebagai ajang
untuk beradu harga diri. Denna juga sebenarnya terlalu sesuka hati dan
cenderung terlalu keras kepala untuk ukuran perempuan menurut Rafa. Pertahanan
harga diri keduanya tentu saja memperparah masalah yang terjadi.
Pertengkaran demi pertengkaran tak terelakkan, keduanya
sering putus nyambung. Sudah seperti bayar tagihan cicilan tiap bulan. Sering
Denna menyakiti diri sendiri, berbuat hal-hal konyol jika Rafa seolah tidak
peduli dan cenderung lebih sibuk dengan kehidupannya sendiri. Rafa tak terima
jika dikatakan ‘tidak peduli’ dengan Denna. Dia terus mengelak, dan beralibi
bahwa sikapnya yang cuek itu bukan berarti tidak peduli pada Denna, dia hanya
ingin mengurangi jarak agar tak sering terjadi pertengkaran diantara keduanya.
Tapi sikap Rafa itu justru membuat amarah Denna semakin menjadi-jadi, sering
Denna mengumpati Rafa dengan kata-kata yang terbilang kasar sebenarnya, tapi
itu ia lakukan untuk menunjukkan bahwa dirinya kurang perhatian dan hanya butuh
waktu dengan Rafa seperti di awal hubungan mereka dulu. Sayangnya Rafa justru
balik menyalahartikan sikap Denna itu sebagai sikap ketidakdewasaan Denna.
Tentu saja lambat laun rasa sayang diantara kedua muda-mudi ini semakin
terkikis. Pertengkaran mereka hampir terjadi setiap hari. Hingga tiba hari
dimana Denna merasa benar-benar sudah tidak berarti bagi Rafa.
Sebulan menjelang putusnya hubungan kedua muda mudi itu,
tepat di libur semester tahun lalu, tepatnya di akhir tahun. Keduanya pulang
kampung untuk liburan, dan itu berarti intensitas pertemuan keduanya semakin
jarang sebab kesibukan Rafa di kampung membuat ia tak punya banyak waktu untuk
bertemu dengan Denna. Begitu juga Denna yang punya kesibukan sendiri meski tak
sesibuk Rafa. Sering sekali ia rindu, tetapi tak disampaikan kepada Rafa,
bahkan mengirimkan pesan singkatpun sudah tidak sering lagi terjadi diantara
mereka. Bukannya Denna tak mau atau tak bisa mengirim pesan kepada Rafa. Denna
mau dan Denna bisa, hanya saja Rafa tidak merespon pesan-pesan itu seperti dulu
lagi. Alasannya karena kesibukan yang luar biasa mengharuskan dia jarang
memegang cellphonenya. Tapi Denna berfirasat bahwa sikap Rafa yang satu ini
memang benar-benar tak bisa ia mengerti. Kemarin-kemarin di liburan semester
sebelumnya Rafa juga sibuk tapi tetap punya waktu untuk mengabari Denna meski
hanya sekali atau dua kali. Namun kali ini, tak akan terjadi jalinan komunikasi
jika bukan Denna duluan yang mulai, itupun Rafa tak lagi merespon seperti dulu.
Ia hanya membalas seperlunya, dan langsung bersembunyi di balik alasan sibuk.
Keadaan ini benar-benar semakin mempersulit hubungan
keduanya. Denna sungguh tak bisa mengendalikan fikirannya sendiri. Sering kali
ia berfirasat bahwa mungkin Rafa tidak benar-benar sibuk seperti yang ia
katakan selalu kepada dirinya. Mungkin saja Rafa telah bosan dengan hubungan
yang mereka jalin setahun lebih itu, lalu tanpa sepengetahuan Denna, di hati
Rafa telah ada perempuan lain. Semua praduga-praduga itu semakin membuat Denna
resah sendiri, hingga ia tak tahan dan meminta bertemu dengan Rafa untuk
membicarakan masa depan hubungan mereka. Kali ini Rafa tak mangkir, ia memenuhi
keinginan Denna untuk bertemu dan berbicara empat mata.
Siang hari yang
suntuk di pinggir pantai, mereka berdua saling bertatap. Memang ada yang aneh
dari tatapan Rafa kepada Denna. Kosong, tak ada rindu, tak ada rasa sayang, dan
tak lagi ada Denna. Jantung Denna berdegup kencang, bukan karena ia senang
dengan pertemuan mereka, namun ia kesulitan menahan amarah, rindu, dan kecamuk
air mata, juga perasaan terkhianati yang ia tahan di hadapan lelaki yang
dipacarinya cukup lama itu. Denna telah paham dengan situasi itu, dia bisa
membaca perasaan Rafa dari raut wajah dan cara ia membalas kata-kata Denna.
Meski begitu Denna tetap berharap bahwa ada penjelasan yang
dapat membuatnya paham dan bisa memaafkan sikap Rafa kepadanya, dia berharap
bahwa prasangkanya yang salah. Denna memulai pembicaraan, “Aku bingung dengan
sikapmu akhir-akhir ini. Sebenarnya ada apa? Okey, aku tau kamu ada banyak
kesibukan, aku paham itu. Tapi Raf, sikap kamu tuh udah lain banget. Kamu bukan
Rafa yang aku kenal kaya dulu lagi tau nggak? Aku mohon kamu jelasin sama aku,
biar aku paham, biar aku bisa mengambil tindakan yang tepat untuk kita. Apa
kamu udah bosan sama aku? Sama hubungan kita?”, desak Denna kepada Rafa sambil
menahan emosinya. Rafa menjawab ringan dengan gaya yang setengah cuek kepada
Denna, “terserah kamu aja deh mau berpikiran apa. Yang jelas aku sibuk, Nna.
Kalau kamu nggak bisa paham dengan keadaan aku, ya udah, mundur aja!”. Tatapan
Denna menjadi tajam, emosinya menggunung apalagi dengan gaya Rafa yang
menanggapinya dengan nada cuek dan santai, sama sekali tidak seserius Denna.
“oh gitu? Kaya gitu aja
selama setahun lebih ini? Raf, kita udah hampir dua tahun, apa kamu nggak
pertimbangkan semua yang udah kita lalui sama-sama? Aku cuma minta kejelasan
doang Raf. Kamu mau pertahankan hubungan kita atau nggak atau mau gimana? ”,
tukas Denna dengan suara yang menunjukka kemarahannya, tapi dengan seluruh
tenaga ia tetap berusaha terlihat tenang dihadapan Rafa.
“kan udah aku jelasin, aku
nih sibuk Nna. Kamu kan tau sendiri kalau aku udah di kampung, yah kaya gimana.
Kehidupan kita beda. Di kota kita boleh banyak habiskan waktu sama-sama. Tapi
disini, kamu harus ngerti lah.”, balas Rafa
“kamu kira aku nggak berusaha
ngertiin kamu apa? Raf, aku tahan diri aku buat nggak nge-smsin kamu, karena
takut kamu terganggu. Aku tunggu kamu kirim sms duluan Raf, tapi apa? Nggak ada
Raf. Komunikasi kita nggak jalan kalau bukan aku duluan yang mulai. Kurang
ngerti apa aku Raf? Aku paham kamu sibuk, aku nggak pernah minta hangout bareng
karena aku tau kamu nggak bakalan punya waktu. Aku ngerti, Raf. Yang aku nggak
paham kenapa kamu sampe berubah banget kaya sekarang? Apa kamu mau putus aja?”,
tuntut Denna dengan mata berkaca-kaca menahan air matanya.
Betapa suasana itu membuat Denna ingin gila rasanya. Semua
emosi yang berusaha ia tahan cukup lama, hanya ditanggapi santai bahkan cuek
oleh Rafa. Tapi Denna tetap bertekad untuk minta kejelasan dan jauh di dalam
hatinya Denna masih ingin mempertahankan hubungan yang ia jalin dengan pria
yang setahun lebih muda darinya itu.
“Aduuhh, Nna. Aku lagi banyak pikiran yah, kamu jangan
tambah-tambah beban pikiran aku deh. Gini aja deh. Aku tuh terserah, kamu mau
mau putus ya silahkan, mau ngelanjutin yah silahkan tapi kamu harus paham
dengan situasiku. Jangan banyak tuntut ini itu.”, Rafa memberi penjelasan
kepada Denna.
“haahhhh!”,
Denna kembali menghembuskan nafas panjang pertanda ia benar-benar berusaha
keras menahan emosinya.
“ya ampun,
Rafa. Apa kamu nggak bisa rasa apa? Aku tuh udah berusaha banget ngertiin kamu.
Tapi kamu masih bilang aku nggak ngertiin kamu? hahhh”. Tukas Denna dengan nada
suara yang meninggi dan diakhiri dengan hembusan nafasnya lagi yang panjang.
“Kalau
kamu ngerti sama keadaan aku, kamu nggak bakalan tuntut kaya gini sama aku,
Nna. Harusnya kamu langsung ngerti aja.”, kembali Rafa membalas Denna.
“kamu
keterlaluan, Raf. Keterlaluan.”, Denna hanya membalas singkat, sebab emosinya
semakin menjadi-jadi tapi masih mampu ia tahan meski dengan susah payah.
“hmm, tadi
aku udah kasi pilihan sama kamu Nna. Terserah sama kamu juga, mau lanjut atau
mau putus, terserah kamu Nna.”, Rafa menanggapi Denna.
Jauh di
dalam lubuk hati Denna, ia merasa begitu dipermainkan oleh Rafa, tapi ia tetap
berharap bahwa sikap Rafa itu hanya karena ia sedang stress dengan banyaknya
kesibukan yang ia tanggung. Meski di sisi lain Denna tidak sepenuhnya puas
dengan penjelasan Rafa, bahkan ia merasa dipermainkan oleh pilihan yang
diberikan Rafa kepadanya, tapi ia tetap memilih untuk bertahan pada hubungan
tersebut.
“ya udah,
aku nggak sanggup berdebat sama kamu lagi Raf. Hati aku makin sakit aja. Kalau
kamu suruh aku pilih. Okey, fine! Aku pilih untuk tetap bertahan pada hubungan
kita. Tapi please kamu tolong beri aku penjelasan kalau kamu sibuk, balas aja
pesan aku sekali, nggak apa-apa. Aku akan ngertiin kamu lebih baik lagi.”,
Denna memohon dengan nada lirih.
“okey,
kita lanjut kalau gitu. Tapi, Nna aku bener-bener nggak bisa kaya dulu lagi.
Please, kamu juga harus paham. Kamu nggak boleh nuntut ini itu sama aku
sekarang.”, balas Rafa yang menanggapi permohonan Denna dengan nada santai lagi
sambil memainkan game di handphonenya.
Pembicaraan
tentang masa depan hubungan mereka itu berakhir. Denna pulang dengan perasaan
yang campur aduk, dia berharap bisa senang dengan keputusannya tadi. Tapi, kenyataannya
tidak seperti itu yang dirasakan hati Denna. Di sisi lain ia senang masih bisa
bersama Rafa meskipun akan ada banyak hal yang berubah, tapi dia berjanji akan
memperbaiki diri lebih baik lagi agar Rafa bisa mengerti betapa Denna menyangi
pria itu dan berusaha keras untuk menjadi yang terbaik baginya.
Dua minggu
berlalu setelah pertemuan mereka. Selama dua minggu itu pula Denna seperti
membohongi diri sendiri, mencoba terlihat bahagia namun jauh di dalam hatinya
dipenuhi sesak yang berusaha ia tahan agar Rafa tidak lagi mengira bahwa Denna
sama sekali tak mengerti keadaannya.
Denna tak
lagi berkomunikasi dengan Rafa. Denna mencoba menahan diri selama dua minggu
itu untuk tidak mengirim pesan apapun ke nomor Rafa, berharap Rafa akan merasa
ada yang kurang, dan akhirnya ia menyadari bahwa Denna tak pernah mengirimkan
pesan apapun kepadanya selama kurang lebih empat belas hari. Tapi sayangnya,
semua harapan Denna dan rencana kecilnya itu hanya menjadi khayalan yang tak
pernah menjadi kenyataan.
Benar
saja, selama dua minggu Rafa sama sekali tak ada kabar, tidak ada satu pesan
sms pun dari Rafa yang masuk di inbox Denna. Tapi perempuan lugu itu tetap
menguat-nguatkan hatinya yang sudah terlalu sesak, untuk tetap menjaga lilin
pengharapannya agar tak mati.
Tepat di
siang hari setelah dua minggu berlalu sejak pertemuan terakhir mereka, sejak
tak ada satu pesanpun yang Denna kirim ke nomor Rafa dan begitupun sebaliknya.
Denna tak sengaja bertemu dengan adik kelasnya sewaktu di SMA dulu. Salsa
namanya. Salsa begitu girang bertemu dengan Denna yang lagi jalan santai di
sekitar kompleks rumahnya sore itu. Salsa memeluk Denna dengan erat, seolah
mereka tak pernah bertemu untuk waktu yang sangat lama, padahal seminggu yang
lalu mereka baru saja bertemu dengan keadaan yang hampir sama di taman kota
dekat rumah Salsa. Singkat cerita, hari itu Denna seperti kejatuhan langit tapi
hanya menimpanya seorang diri.
Betapa
tidak, Salsa yang dengan polosnya menohok Denna dengan sebuah pertanyaan yang
sungguh memecah kembali hati yang berusaha ia tata untuk Rafa.
“Loh, kak
Denna koq nggak ikut sama kak Rafa?”, Salsa menohok Denna dengan pertanyaan
polos itu.
“Ikut?
Kemana? Emang Rafa kemana?”, jawab Denna dengan raut wajah yang bergitu heran,
dan tangannya kembali gemetaran menahan rasa kaget.
“Kak Rafa
jalan-jalan sama temen-temennya masa kak Denna nggak tau ih?”, Balas Salsa
masih dengan nada polos.
“Aku
bener-bener nggak tau, Sa. Emang kemana Rafa dengan teman-temannya? Aku sama
sekali nggak dikasih kabar. Iyya, aku emang lihat foto temennya Rafa di BBM
lagi traveling gitu, tapi aku nggak tau kalau Rafa ikut. Dia bilangnya lagi
sibuk banget dan udah dua minggu aku sama Rafa nggak ada komunikasi, Sa. Kamu
tau kemana mereka? Dan dari mana kamu tau kalau Rafa ikut sama
temen-temennya?”, desak Denna kepada Salsa dengan menahan air mata dan rasa
sesak di dadanya.
“Yahh, aku
nggak tau kalau kaya gitu keadaannya kak. Aku minta maaf banget yah. Maaf
banget kak. Hmm, aku tau kak Rafa pergi sama mereka karena emang ada foto-foto
yang mereka unggah di facebook. Kak Denna emang ngga pernah online? Yah, emang
bukan dari akunnya kak Rafa, tapi dari akunnya kak Desi, kak Irfan,
temen-temennya kak Rafa. Setau aku mereka katanya pergi ke puncak kak, soalnya
ada statusnya gitu tadi.”, jawab Salsa kepada Denna dengan ekspresi yang penuh
rasa bersalah.
“oh gitu?
Ya udah, makasih banget yah Sa atas informasinya. Kakak, harus ke suatu tempat
dulu”, dengan terburu-buru Denna pergi setelah mendengar pernyataan Salsa dan
melihat sendiri foto-foto unggahan teman-teman Rafa di facebook.
Denna
berjalan dengan sangat terburu-buru, perempuan yang hatinya telah berkali-kali
remuk karena sikap Rafa itu, sungguh tak mampu lagi menahan gejolak amarah yang
ia pendam cukup lama dan berusaha bersabar untuk seseorang yang ternyata sama
sekali sudah tidak menganggapnya lagi.
Denna
berusaha menghubungi nomor Rafa, tapi tidak aktif. Akun BBM dan facebooknya
juga tidak aktif. Tapi, Denna tidak kehabisan akal. Dia menghubungi salah satu
teman Rafa yang tadi disebutkan Salsa.
“Hallo,
Desi? Ini aku Denna, apa kamu sama Rafa sekarang?”, desak Denna kepada Desi
melalui via telephone.
“Iyya nih
kak, aku sama Rafa sama temen-temen yang lain juga, lagi ke puncak. Aku pikir
kak Denna ikut sama si Rafa.”. jawab Desi polos kepada Denna, persis seperti
cara Salsa tadi.
“ohh,
makasih yah Dek. Kakak minta tolong, bilangin si Rafa, biar nomornya di
aktifin. Bilang sama dia kalau aku mau ngomong sesuatu. Penting banget. Oh
iyya, kalian kapan pulangnya sih?”, jawab Denna sambil menahan isak tangisnya
setelah mendengar jawab Desi sebelumnya.
“iyya ka,
aku pasti sampaikan ko’ ke Rafa. Kayanya emang handphonenya tuh anak nggak di
aktifin dari kami berangkat. Kak Denna tenang aja, ntar sore kami udah pulang
ko’.”, jawab Desi yang masih tak paham situasi Denna dan Rafa.
Denna
menutup telephone yang membuat dadanya semakin sesak setelah mendengar jawaban
Desi. Ia masuk ke dalam kamarnya, menutup pintu dengan rapat dan menangis
sejadi-jadinya di bawah bantal. Denna betul-betul putus asa dengan kelakuan
Rafa padanya. Dia berfikir bahwa Rafa sengaja melakukan semua itu agar Denna
tak tahan dan akhirnya Denna sendiri yang minta putus kepada Rafa. Hatinya
betul-betul remuk, dijatuhkan berkali-kali setelah bersusah payah ia tata. Langit
seolah runtuh dan hanya menimpanya. Pupus sudah puisi-puisi yang Denna ciptakan
untuk pria itu. Runtuh sudah semua istana harapan yang berkali-kali ia bangun
kembali untuk Rafa. Mati sudah lilin pengharapan yang dengan sekuat tenaga ia
jaga agar tetap hidup untuk seorang Rafa.
Hati Denna
benar-benar hancur, puluhan pesan ia kirim ke nomor Rafa meski ia tau nomor
sedang tidak aktif, tapi ia tidak peduli. Ia tau Rafa akan membacanya nanti. Ia
ingin bertemu dengan Rafa, dan mengeluarkan segala kemarahan, kesabaran, rasa
sakit yang berkali-kali ia pendam untuk semua rindunya yang tak terbalaskan
pada Rafa.
Sore
menjelang petang, Rafa telah tiba lagi di kampungnya setelah perjalanan jauh
dari puncak bersama teman-temannya. Semua pesan yang dikirimkan Denna
kepadanya, ia baca satu per satu. Lalu tanpa pikir dua kali, ia langsung
memutuskan untuk bertemu dengan Denna. Emosi Rafa kali ini mencuat. Ia juga
mulai murka dengan kata-kata yang dikirimkan Denna kepadanya. Baginya
benar-benar tak lagi ada rasa sayang kepada Denna sebab memang dua bulan
terakhir, bukan Denna lagi yang ada di hatinya.
Di sore
itu, menjelang pertemuan Denna dan Rafa, langit pun terlihat pucat pasi, murung
dan tak bergairah, hanya ingin muntab dan memuntahkan sebanyak-banyaknya air
yang dikandung oleh awan yang gelap.
Pertemua
kedua muda-mudi ini seperti pertemuan dua samurai yang siap bertarung setelah
menyimpan dendam yang lama mendingin lalu menjadi panas kembali.
Tepat di
seberang sana, di ujung jalan dekat lampu merah pertama.
“Okey,
jadi ini yang kamu mau?”, Rafa langsung memulai pembicaraan di bawah rinai itu
dengan emosi kepada Denna.
“Apa?
Harusnya yang bilang kaya gitu aku, Raf. Kamu benar-benar nggak punya hati. Aku
kerahkan semua kemampuanku untuk bisa jadi yang terbaik buat kamu, tapi kamu
sama sekali nggak bisa lihat semua itu. yang harusnya bilang kaya gitu, aku
Raf. Aku.” Jelas Denna kepada Rafa, dengan penuh amarah.
“okey,
silahkan kamu marah. Tapi aku paling nggak suka dengan kata-kata yang kamu
kirimkan sama aku barusan. Cewek kasar!”, balas Rafa juga dnegan emosi yang
memuncak.
Denna
muntab dengan perkataan Rafa dan balik membalas, “hahaha, kamu sakit dengan
kata-kata aku. Bayangin gimana sakitnya aku dengan kelakuan kamu Raf. Dan aku
cuma bisa menahan selama ini. Kamu bener-bener keterlaluan. Ngaku aja deh kalau
kamu sengaja lakukan semua ini biar aku duluan yang minta putus. Ngaku aja
sekalian kalau kamu punya selingkuhan.”.
“Terserah
kamu mau pikir aku kaya apa. Terserah. Yang jelas kali ini nggak ada maaf buat
kamu Denna.”, bentak Rafa yang berusaha mengalihkan pernyataan Denna tentang
perselingkuhannya.
“Ehh, kamu
nggak berhak bentak-bentak aku kaya gitu. Yang berhak buat marah besar itu aku,
Raf. Kamu pergi sama temen-temen kamu, dan nggak ada sedikitpun kabar kalau
kamu pergi. Kamu egois Raf. Kamu Cuma memikirkan kepentingan diri kamu sendiri
tanpa perna peduli aku kaya gimana. Susah payah aku perbaiki suasana hati aku
Raf hanya supaya tidak meledak pertengkaran seperti ini antara kita. Agar
hubungan kita tetap bertahan. Tapi, emang kayanya kamu yang sudah tidak mau
mempertahankan hubungan ini.”, suara Denna meninggi membalas Rafa dengan
kekesalan yang ia tahan selama ini.
“kamu yang
minta Denna. Sikap kamu. Kamu putusin aja aku sekarang.”, bentak Rafa kepada
Denna.
Sambil
menahan air mata, Denna kembali muntab dengan nada yang berat, “nggak. Kamu
yang putusin aku, Raf. Biar kita nggak pernah balikan lagi.”.
Sejenak
Rafa terdiam, lalu tanpa fikir memenuhi keinginan Denna untuk terakhir kali,
“okey gini. Aku benar-benar minta maaf karena udah nyakitin kamu selama ini
Nna. Tapi aku juga nggak mampu bertahan karena sikap kamu yang selalu menuntut
untuk diperhatikan. Terserah kamu mau bilang ini alasan atau apa. Terserah juga
kamu mau lihat aku sebagai manusia atau setan, binatang apapun itu, setelah
ini. Tapi aku minta maaf dan kita akhiri saja semua ini. Kita putus.”.
“Dengan
senang hati.”, singkat Denna menjawab dengan nada suara yang semakin berat
sebab menahan tangis dan amarahnya.
Akhirnya
benar-benar berakhir seluruh yang Denna pertahankan seorang diri selama ini. Ia
menyerah, sebab hatinya kalah. Tak mampu ia sambung kembali tali pengharapan,
tak mampu ia nyalakan kembali lilin pengharapan. Dihempaskannya semua barang
pemberian Rafa ke hadapan lelaki jangkung itu.
Aroma
petrikor semakin kuat menandakan hujan yang belia baru saja menyentuh tanah
bumi, bersamaan dengan itu pecah pula air mata Denna yang dibawanya berlari
menjauh meninggalkan pria itu. Denna tak tau pasti ke arah mana ia berlari,
yang jelas dia mengerahkan seluruh sisa tenaga yang ia miliki mengayunkan kedua
kakinya dengan sangat cepat menembus butiran-butiran hujan sekaligus beradu
dengan emosi.
Bagi
Denna, hujan di Februari itu tidak hanya bertajuk tentang rindu yang tak pernah
sampai, tetapi juga tentang hujan yang paling kesepian nan penuh dendam,
berubah dalam sekejap waktu. Berubah semua dingin, jalanan, basah, Februari dan
air mata Denna.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar