Sabtu, 08 Oktober 2016

HANYA AKU YANG PALING SENDIRI



  

Tak ada yang lebih sendiri dibanding jenis kesendirian

yang kupeluk.

Tak ada yang lebih sepi dibanding jenis kesepian

yang kuteguk.

Kenyataannya aku terjebak diantara hilir lalu lintas
keramaian yang beraroma seperti jalan-jalan basah
yang sepi setelah dihampiri hujan.

Seperti serpihan daun yang tak sempat tumbuh
lalu menjadi kering dan gugur tak berguna

Menghentak sendi-sendi tanah yang dingin

Setelah salju meleleh,

Mengaliri hulu sungai yang mengais sisa-sisa kebekuan.

Atau serupa nada-nada sedih dari seorang pengamen 

yang sendirian di ujung jalan-jalan kota yang sibuk,

memilah segepok koin untuk hidup
satu hari lagi saat subuh masih berembun.

Mungkin juga tak jauh berbeda dari seorang ibu
dan segelintir do’a-do’a lirih di atas sajadah lusuh
yang tertidur dengan air mata, menjatuhi, dan basah
di atas pinggiran kitab suci yang dirangkulnya,
sembari menimang harap kedatangan anaknya
jauh di rantau,
bertahun-tahun tak ingat pulang.

Bahwa seluruh yang menjadikan malam sebagai gelap yang dingin

Adalah sepi dan rasa sendiri
yang tak terbunuh.

Lalu memilih pasrah dan menikmati kebohongan

tentang angan-angan hidup
yang sebenarnya hanya penawar saat mungkin air mata
tak tertangguhkan.
Dan aku menerima berbagai jenis rasa itu.

2016, Asyrah (Pena Jiwa)

1 komentar:

  1. Bolehkah aku menemanimu? Hehehe
    Btw puisinya keren, tapi kenapa cuma dua, hmm, ditunggu puisi berikutnya.

    BalasHapus